Ketika Alam Semesta Tidak Ada
Artikel sebelumnya mengajukan kemungkinan bahwa eksistensi telah ada sebelum manusia. Bahwa gunung tidak membutuhkan nama. Bahwa bintang tidak membutuhkan pengamat. Bahwa keberadaan tidak membutuhkan makna.
Tetapi ada sebuah pertanyaan yang terus mengganggu.
Bagaimana kita bisa mengetahui keberadaan sesuatu tanpa pengalaman?
Alam Semesta Yang Tidak Pernah Dialami
Bayangkan sebuah alam semesta. Tidak ada manusia. Tidak ada hewan. Tidak ada kehidupan. Tidak ada kesadaran.
Galaksi bergerak. Bintang lahir. Planet terbentuk.
Tetapi tidak ada satu pun pengalaman.
Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang mengetahui. Tidak ada yang bertanya.
Maka muncul pertanyaan yang nakal.
Apa bedanya alam semesta seperti itu dengan alam semesta yang tidak pernah ada?
Penjara Kesadaran
Sebagai manusia, kita tidak pernah mengalami eksistensi secara langsung.
Kita hanya mengalami pengalaman.
Kita tidak mengalami dunia. Kita mengalami persepsi tentang dunia.
Kita tidak mengalami waktu. Kita mengalami perubahan.
Kita tidak mengalami keberadaan. Kita mengalami kesadaran yang sedang mengalami keberadaan.
Mungkin Kesadaran Lebih Tua Dari Yang Kita Kira
Artikel sebelumnya menganggap kesadaran lahir dari eksistensi.
Tetapi bagaimana jika arah panahnya salah?
Bagaimana jika segala sesuatu yang kita sebut eksistensi sebenarnya hanya muncul melalui kesadaran?
Bagaimana jika alam semesta yang kita kenal bukanlah objek. Melainkan pengalaman.
Tanpa pengalaman, siapa yang mengatakan bahwa sesuatu itu ada?
Jurang Kedua
Jika artikel pertama berdiri pada keyakinan bahwa keberadaan mendahului makna. Maka artikel ini mengajukan kemungkinan lain.
Bahwa seluruh gagasan tentang keberadaan juga muncul di dalam pengalaman sadar.
Artinya kita tidak pernah benar-benar keluar dari kesadaran untuk memverifikasi dunia.
Kita hanya berdiri di dalam kesadaran dan menebak-nebak apa yang ada di luar sana.
Aforisme Kedua
Eksistensi mungkin tidak membutuhkan manusia.
Tetapi seluruh yang diketahui manusia tentang eksistensi membutuhkan kesadaran.
Penutup
Artikel ini tidak membatalkan artikel sebelumnya.
Ia hanya menggeser posisi pengamat.
Dari alam semesta menuju kesadaran.
Karena mungkin pertanyaan terbesar bukan:
Apakah keberadaan ada sebelum manusia?
Melainkan:
Bagaimana manusia bisa mengetahui keberadaan tanpa terlebih dahulu menjadi sadar?
Dan mungkin di situlah jurang berikutnya menunggu.
Posting Komentar untuk "Bagaimana Ketika Alam Semesta Tidak Ada?"