Aforisme Eksistensial: Bermain di Tepi Jurang Keberadaan
"Kita tidak menciptakan keberadaan. Kita hanya terbangun di dalamnya."
Ada pertanyaan yang tidak lahir dari buku. Ada pertanyaan yang tidak diajarkan di sekolah. Ada pertanyaan yang muncul ketika seseorang terbangun di malam hari dan tiba-tiba menyadari bahwa dirinya sedang hidup.
Pertanyaan seperti itu sering kali tidak mencari jawaban. Ia mencari arah.
Dan mungkin arah yang paling berbahaya sekaligus paling menarik adalah ketika manusia mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa:
Apakah kita menemukan realitas, atau hanya memberi nama kepada sesuatu yang telah ada sebelum kita?
Yang Ada Sebelum Ditemukan
Sebelum manusia memahami langit, bintang telah bersinar. Sebelum manusia mengenal waktu, peristiwa telah berlangsung. Sebelum manusia mempelajari kesadaran, pengalaman telah terjadi.
Gunung tidak menunggu manusia untuk menjadi gunung. Laut tidak menunggu manusia untuk menjadi laut. Alam semesta tidak menunggu manusia untuk menjadi nyata.
Maka muncul sebuah kemungkinan yang layak dipertimbangkan:
Mungkin ada hal-hal yang tidak diciptakan oleh manusia, melainkan ditemukan oleh manusia.
Jika demikian, maka keberadaan memiliki kedudukan yang lebih tua daripada seluruh bahasa, budaya, dan pengetahuan yang pernah dibangun manusia.
Wilayah Ketuhanan
Aforisme Eksistensial berangkat dari sebuah kemungkinan sederhana:
Eksistensi adalah wilayah ketuhanan.
Yang dimaksud bukan agama tertentu. Bukan pula sosok tertentu.
Yang dimaksud adalah wilayah keberadaan itu sendiri.
Waktu. Kesadaran. Kemungkinan. Kehidupan. Kematian.
Segala sesuatu yang tetap ada bahkan sebelum manusia menjelaskan atau memahaminya.
Dalam pandangan ini, eksistensi tidak membutuhkan manusia untuk menjadi nyata.
Wilayah Kemanusiaan
Namun manusia memiliki kemampuan yang unik.
Manusia memberi nama. Manusia membuat cerita. Manusia membangun ilmu. Manusia menciptakan simbol. Manusia menyusun makna.
Kita tidak menciptakan matahari. Tetapi kita menciptakan kata "matahari".
Kita tidak menciptakan kematian. Tetapi kita menciptakan ribuan cara untuk memahaminya.
Kita tidak menciptakan kesadaran. Tetapi kita menciptakan filsafat, psikologi, dan agama untuk menjelaskannya.
Mungkin inilah yang disebut esensi.
Esensi adalah wilayah kemanusiaan.
Kehidupan Sebagai Dialog
Jika eksistensi adalah wilayah ketuhanan dan esensi adalah wilayah kemanusiaan, maka kehidupan mungkin bukan perang antara keduanya.
Kehidupan adalah dialog.
Eksistensi menghadirkan pengalaman. Manusia menghadirkan makna.
Eksistensi menyediakan kemungkinan. Manusia memilih cerita.
Eksistensi menghadirkan dunia. Manusia mencoba memahaminya.
Kehidupan adalah dialog antara eksistensi dan esensi.
Bermain di Tepi Jurang
Artikel ini tidak menawarkan jawaban akhir.
Ia hanya mengajak pembaca berdiri sejenak di tepi jurang pertanyaan.
Jurang yang memisahkan apa yang ada dan apa yang kita pahami.
Sebab mungkin selama ini kita terlalu sibuk memberi makna sehingga lupa bertanya:
Apakah hal yang sedang kita pikirkan benar-benar baru, atau sebenarnya telah ada jauh sebelum kita menemukannya?
Mungkin suatu ide tidak diciptakan. Mungkin ia ditemukan.
Mungkin suatu pemikiran tidak lahir. Mungkin ia telah menunggu untuk disadari.
Dan mungkin keberadaan selalu lebih besar daripada kata-kata yang kita gunakan untuk menjelaskannya.
Posting Komentar untuk "Aforisme Eksistensial"