Menyentuh Anatta

Malam itu saya terbangun tanpa alasan yang jelas..
Di luar tenda,, suasana terasa sunyi,, tetapi tidak benar-benar diam.. 
Dari kejauhan terdengar suara mesin diesel yang terus bekerja.. Mesin itu digunakan untuk memasukkan udara ke dalam lubang tua yang hingga hari ini masih berproduksi.. Suaranya terdengar berat dan berulang,, seolah menjadi detak jantung dari aktivitas manusia yang masih berlangsung di tengah gelapnya malam..
Saya keluar tenda dan duduk sejenak..
Udara terasa dingin.. Dalam satu minggu terakhir,, hujan hampir selalu turun setiap sore di lokasi ini.. Tanah menjadi lembap,, rerumputan selalu basah,, dan awan sering datang tanpa banyak peringatan.. Cuaca seperti ini memang menenangkan,, tetapi di sisi lain tubuh mulai memberikan tanda-tanda kelelahan..
Di hadapan saya ada dua sumber cahaya..
Yang pertama adalah bulan yang menggantung tenang di langit.. Yang kedua adalah lentera kecil yang menemani malam di sekitar tenda. Entah mengapa, keduanya terlihat seperti sedang bekerja sama..
Bulan menerangi dunia dari kejauhan,, sementara lentera menjaga ruang kecil di sekitar saya..
Saat itu saya teringat pada hubungan antara kesadaran dan tubuh fisik..
Kesadaran mungkin seperti bulan.. Ia mengamati,, memahami,, dan melihat lebih jauh dari apa yang tampak.. Sedangkan tubuh fisik seperti lentera.. Cahayanya lebih terbatas,, tetapi tanpanya saya tidak akan bisa berjalan,, bekerja,, ataupun menjalani kehidupan sehari-hari..
Keduanya berbeda,, tetapi saling membutuhkan..
Saya duduk cukup lama sambil memandang malam..
Di tengah suara diesel,, cahaya bulan,, dan dinginnya udara,, muncul pertanyaan yang sesekali datang dalam hidup saya:
Jalan apa sebenarnya yang sedang saya jalani??
Saya tidak langsung menemukan jawabannya..
Mungkin memang tidak semua pertanyaan harus dijawab malam itu juga..
Beberapa pertanyaan hanya perlu ditemani sampai waktunya tiba..
Belakangan ini tubuh saya mulai merasakan gejala demam ringan.. Mungkin karena hujan yang terus datang hampir setiap hari,, atau mungkin karena tubuh memang sedang meminta waktu untuk beristirahat.. Saya berharap ini tidak berkembang menjadi sakit yang lebih serius..
Masih ada banyak hal yang ingin saya lakukan..
Besok rencananya saya akan kembali mencari batuan.. Siapa tahu hasilnya bagus.. Siapa tahu ada sesuatu yang menarik menunggu untuk ditemukan.. Dalam pekerjaan seperti ini,, harapan sering kali hidup dari kemungkinan-kemungkinan kecil..
Sebelum kembali masuk ke dalam tenda,, saya sempat tersenyum sendiri..
Di tengah malam yang sunyi,, seolah ada percakapan sederhana antara kesadaran dan tubuh saya..
Kesadaran itu berkata:
"Sehat selalu fisikku.. Masih banyak yang akan kita lakukan.."
Saya memandang lentera untuk terakhir kalinya malam itu..
Lalu kembali berbaring..
Suara mesin diesel masih terdengar dari kejauhan..
Bulan masih berada di tempatnya..
Dan malam terus berjalan sebagaimana mestinya.. ⚡

Posting Komentar untuk "Menyentuh Anatta"